Makanan adalah kebutuhan dasar manusia yang sangat penting untuk bertahan hidup. Tanpa asupan makanan, manusia bisa mati dalam hitungan hari. Tapi tahukah Anda, bagaimana nenek moyang kita di masa lampau menemukan jenis makanan yang aman untuk dimakan di tengah belantara alam liar? Ternyata perjalanan umat manusia dalam mengenali makanan yang layak konsumsi cukup panjang dan penuh cerita menarik.
Yuk, kita telusuri prosesnya satu per satu dalam artikel ini!
Pendahuluan
Sebelum modernisasi dan kemajuan ilmu pengetahuan, leluhur kita hidup dengan berburu, meramu, dan mengumpulkan apa yang tersedia di alam bebas. Mereka harus pandai-pandai mengenali tumbuhan serta binatang mana yang bisa dimakan, dan mana yang beracun.
Tentu saja ini bukan perkara mudah! Bayangkan Anda tiba-tiba terdampar di hutan rimba, dikelilingi beraneka ragam tumbuh-tumbuhan asing dan binatang liar. Mana yang bisa dimakan tanpa membuat perut mules atau bahkan meregang nyawa? Mampukah Anda memilah dan memilihnya?
Nenek moyang kita mengandalkan beberapa cara untuk bisa mengetahui makanan yang aman dikonsumsi, yang akan kita bahas satu per satu di artikel ini:
1. Makanan pada Zaman Prasejarah
Ketika peradaban manusia masih primitif di zaman prasejarah, cara mendapatkan makanan relatif sederhana: berburu binatang, meramu umbi-umbian dan buah-buahan, serta memanfaatkan apa yang tersedia di alam bebas.
Pada masa itu, manusia hidup secara berpindah-pindah (nomaden). Mereka mengikuti musim dan ketersediaan binatang buruan serta tumbuh-tumbuhan yang bisa dimakan di suatu wilayah.
Ketergantungan manusia pada alam sangat tinggi. Mereka memakan apa yang ada untuk sekadar bertahan hidup. Pengetahuan mengenai tumbuhan beracun atau berbahaya masih sangat minim.
2. Trial and Error
Salah satu cara jitu yang dilakukan leluhur kita dalam mengenali makanan adalah dengan mencoba-coba (trial and error).
Mereka akan mengumpulkan berbagai jenis tumbuh-tumbuhan, akar-akaran, jamur, buah, biji-bijian, dll. Lalu mulai mencicipinya sedikit untuk mengamati reaksi tubuh mereka.
- Apakah menyebabkan sakit perut, mual, muntah-muntah, atau diare?
- Apakah terasa pahit, asam, atau pedas sekali?
- Apakah baunya sangat menusuk atau amis?
Jika menimbulkan reaksi negatif yang kuat, biasanya tumbuhan tersebut berpotensi beracun dan akan dihindari.
Proses mencoba-coba ini pastinya memakan waktu lama dan banyak korban keracunan. Tapi lambat laun leluhur kita bisa menyimpulkan tumbuhan mana saja yang menyebabkan efek negatif, mana yang aman dimakan meski rasa dan baunya tidak sedap, sampai yang benar-benar lezat dan mengenyangkan.
3. Mengandalkan Indera
Selain mencoba langsung, manusia purba juga mengandalkan indera pengecapan dan penciuman untuk mengenali makanan yang aman dimakan.
Beberapa aturan main yang berkembang adalah:
- Hindari memakan tumbuhan dengan rasa pahit, terlalu masam, atau pedas
- Hindari yang berlendir atau bereaksi hebat di lidah
- Hindari yang berbau sangat menyengat atau amis
Pahit, masam, dan pedas dalam jumlah berlebihan bisa merusak sel-sel di dalam tubuh. Lendir dan reaksi kuat di lidah juga sinyal yang kurang bagus. Sedangkan bau amis atau menyengat biasanya tanda makanan sudah membusuk atau berpotensi beracun.
Jadi leluhur kita mempertajam kemampuan mencium dan mengecap secara alami untuk memastikan makanan aman dikonsumsi atau tidak.
4. Mengamati Hewan Liar
Manusia purba yang hidup di alam liar juga banyak belajar dari hewan-hewan yang ada di sekitarnya.
Mereka mengamati apa saja yang dimakan oleh primata seperti monyet, kera, atau simpanse. Para primata ini memiliki kemampuan mencerna makanan yang mirip dengan manusia.
Jadi kalau kita melihat mereka memakan suatu tumbuhan atau buah-buahan dengan aman, besar kemungkinan itu juga aman dikonsumsi oleh manusia.
Selain primata, hewan mamalia besar seperti gajah dan rusa juga dijadikan “role model” makanan sehat bagi manusia kala itu.
5. Pengetahuan Turun Temurun
Secara turun temurun, pengetahuan tentang tumbuhan yang layak dan aman dimakan dilestarikan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Anak-anak diajarkan orang tua mereka untuk mengenali buah maupun umbi-umbian yang bisa langsung dimakan atau perlu diolah terlebih dahulu.
Ilmu mengenai manfaat tumbuhan obat juga diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi. Ini membantu nenek moyang kita bertahan saat menghadapi gempuran penyakit di alam liar.
Jadi tradisi oral atau lisan ini cukup penting untuk melestarikan pengetahuan leluhur soal makanan yang aman dikonsumsi maupun berkhasiat obat.
6. Perkembangan Teknologi
Ketika peradaban manusia mulai mengenal teknologi pertanian dan peternakan, pola makan kita mengalami lompatan besar.
Manusia tidak lagi sepenuhnya mengandalkan berburu atau meramu di alam liar. Mereka mulai mengendalikan dan membudidayakan tanaman serta hewan tertentu sebagai sumber pangan utama.
Contoh umum adalah penjinakan sapi, kerbau, kambing, ayam dan itik untuk diambil daging dan susunya. Serta pendomestikasian padi, jagung, kacang-kacangan, dan umbi seperti ubi kayu/singkong, ubi jalar, talas, dan kentang.
Pertanian dan peternakan skala besar ini melahirkan revolusi pangan yang memungkinkan ketersediaan bahan makanan meningkat drastis untuk mendukung populasi manusia yang terus bertumbuh.
Dengan adanya surplus pangan, manusia bisa menetap di suatu tempat untuk waktu lama dan membentuk permukiman. Peradaban pun berkembang pesat.
7. Studi Ilmiah Modern
Di era modern seperti sekarang, manusia tidak lagi mengandalkan coba-coba random atau turun temurun untuk mengenali makanan yang aman.
Kita memiliki cabang ilmu gizi, kimia, biologi, dan pangan yang secara khusus mempelajari senyawa aktif dalam bahan makanan yang kita konsumsi setiap hari.
Para ilmuwan bisa menjabarkan komposisi protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral, serat dan berbagai zat gizi penting bagi tubuh kita dalam suatu makanan.
Mereka juga bisa mendeteksi kontaminasi mikroba berbahaya, residu pestisida, logam berat, dan bahan-bahan berpotensi karsinogenik (pemicu kanker) maupun alergen (pemicu reaksi alergi).
Semakin majunya teknik analisis di laboratorium membuat kita bisa menghindari konsumsi bahan berpotensi berbahaya dan memilih makanan sehat berdasarkan data ilmiah.
8. Label Kemasan Pangan
Berkat kemajuan regulasi dan standarisasi industri pangan modern, kini kita bisa mengenali kandungan gizi dan bahan-bahan pada makanan kemasan lewat label di kemasannya.
Misalnya:
| Nama Produk | Biskuit Rasa Cokelat |
|---|---|
| Kandungan Gizi (per sajian) | Kalori 110 kalKarbohidrat 20 gramGula 8 gramProtein 2 gramLemak 4 gramSerat 1 gramVitamin dan mineral … |
| Bahan: | Tepung teriguGulaMentegaCokelatdan lainnya … |
Label ini memudahkan kita memilih produk sesuai kebutuhan gizi dan menghindari alergen tertentu jika memiliki intoleransi.
Misalnya penderita diabetes bisa memilih produk rendah gula, sedangkan yang alergi kacang-kacangan bisa menghindari produk dengan kandungan kacang.
9. Budaya dan Tradisi
Meski umat manusia sudah mengenal ilmu pengetahuan modern, budaya dan tradisi setempat terkait makanan yang dianggap aman untuk dikonsumsi masih melekat kuat sampai sekarang.
Misalnya orang Asia sangat akrab dengan mengonsumsi kepiting, kerang, cumi, sotong, dan beragam olahan seafood. Tapi belum tentu orang Eropa atau Amerika bisa langsung menikmatinya.
Begitu pula sebaliknya. Orang Barat sangat menyukai keju dan susu, yang belum tentu cocok bagi sebagian orang Asia yang intoleran laktosa.
Jadi meski globalisasi makanan sangat massif sekarang, tetap ada “gap” tradisi dan budaya yang membuat suatu bahan makanan dianggap lazim dan aman di suatu tempat, tapi asing dan mencurigakan di tempat lain.
Kesimpulan
Itulah perjalanan panjang bagaimana manusia menemukan dan belajar mengonsumsi makanan yang aman di tengah belantara alam liar.
Dimulai dari Trial and error, lalu mengandalkan indera perasa, pengamatan terhadap hewan lain, dan turun temurun secara lisan.
Hingga akhirnya memasuki era modern dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi analisis laboratorium, label informasi gizi makanan, serta tetap belajar dari tradisi dan budaya lokal.

