Di artikel ini
Sains di Sekitar Kita · 1/3
Hujan baru turun sebentar. Jemuran belum sempat diselamatkan, tapi hidung sudah lebih dulu menerima kabar: ada aroma tanah basah. Aneh juga. Tanahnya dari tadi di situ. Kok baru sekarang wangi?
Aroma khas yang muncul ketika hujan membasahi tanah kering sering disebut petrichor. Sumbernya berkaitan dengan senyawa di lingkungan tanah dan tumbuhan. Hujan membantu melepaskannya ke udara. Jadi, kalau ada yang bilang “bau hujannya enak”, hidungnya sedang menikmati sesuatu yang ceritanya dimulai di bawah kaki.

Tanah ternyata punya urusan dengan parfum
Tenang, tanah tidak sedang membuka toko wewangian. Yang ada adalah campuran zat yang bisa menghasilkan aroma. Penjelasan Office for Science and Society, McGill University menyebut minyak dari tumbuhan serta zat yang dihasilkan mikroorganisme, termasuk geosmin, sebagai bagian dari cerita petrichor.
Geosmin dikenal dengan aroma tanahnya. Tetapi menyebut semua aroma hujan sebagai “geosmin doang” juga terlalu buru-buru. Petrichor adalah sebutan untuk aroma yang melibatkan beberapa komponen; geosmin merupakan salah satu senyawa yang ikut berperan. Ibarat nasi goreng, ada bawang putihnya, tetapi sepiring nasi goreng bukan bawang putih yang kebetulan punya teman.
Kalau dua halaman rumah baunya berbeda setelah hujan, itu belum aneh. Kita belum memeriksa jenis permukaan, bahan di sekitarnya, atau keadaan tanahnya. Hidung menerima hasil campuran. Ia tidak memberikan daftar bahan lengkap seperti label belakang kemasan.
Tetes hujan kecil, pekerjaannya lumayan banyak
Bagian menarik berikutnya: bagaimana bahan dari permukaan tanah bisa sampai ke udara? Tim MIT menelitinya menggunakan kamera berkecepatan tinggi. Dalam laporan penelitian yang diterbitkan MIT pada 2015, tetes yang mengenai permukaan berpori dapat menjebak gelembung udara kecil. Gelembung naik lalu pecah, melepaskan tetes-tetes jauh lebih kecil ke udara, atau aerosol.
Peneliti melakukan sekitar 600 percobaan pada 28 jenis permukaan. Jumlah itu memberi gambaran bahwa mereka tidak sekadar menyiram satu pot, mengendusnya, lalu langsung membuka laptop untuk menulis kesimpulan. Mereka mengubah kondisi tumbukan dan karakter permukaan untuk mempelajari mekanismenya.
Peneliti mengusulkan mekanisme tersebut sebagai salah satu penjelasan bagaimana bahan beraroma dapat terlepas. Penelitian aslinya berjudul Aerosol generation by raindrop impact on soil. Yang dipelajari adalah proses pembentukan aerosol; itu berbeda dari mengukur aroma setiap hujan di seluruh dunia.

Berarti makin deras, makin wangi?
Belum tentu. Pada kondisi percobaan MIT, tumbukan yang mewakili hujan ringan dan sedang menghasilkan lebih banyak aerosol daripada tumbukan yang lebih kuat. Sifat permukaannya ikut menentukan. Jadi, menambah deras hujan tidak otomatis membuat aroma meningkat dengan urutan yang rapi.
Bayangkan kamu sedang mengatur volume speaker. Biasanya diputar ke kanan, bunyi makin keras. Hujan dan aroma tidak punya satu kenop sesederhana itu. Ada kecepatan tetes, keadaan permukaan, bahan yang tersedia, dan cara bahan itu tersebar. Kita perlu tahu apa yang berubah sebelum mengatakan mana penyebabnya.
Hidung bisa meramal hujan, dong?
Hidung bisa menangkap aroma. Untuk menebak jam mulai hujan, kita masih perlu informasi cuaca. Dua kemampuan itu tidak otomatis satu paket.
Misalnya kamu mencium aroma tanah basah dari teras. Yang bisa kamu katakan adalah “ada aroma tanah basah yang tercium di sini”. Kamu belum mengukur lokasi asalnya, arah penyebarannya, atau waktu hujan akan sampai ke rumah. Kalau langsung menyimpulkan “sebentar lagi pasti hujan tepat di sini”, ada beberapa langkah pembuktian yang terlewat.
Ini sejalan dengan kelembapan tinggi yang belum tentu berarti hujan. Satu petunjuk lingkungan membantu kita bertanya, tetapi belum cukup untuk menjawab semuanya.
Coba tebak: pengamatan atau kesimpulan?
Seorang siswa mencatat: “Setelah tanah halaman disiram, saya mencium aroma tanah.” Lalu ia menambahkan, “Berarti semua aroma hujan berasal dari satu zat.” Kalimat mana yang masih membutuhkan bukti tambahan?
Buka jawabannya
Kalimat kedua. Pengamatan pertamanya terbatas pada satu tempat dan satu kejadian. Ia belum mengidentifikasi zat, apalagi menguji semua hujan. Mencatat apa yang benar-benar diamati adalah awal yang bagus; memperluasnya ke seluruh dunia perlu pekerjaan lain.
Jadi, saat aroma tanah muncul lagi, kamu sudah punya penjelasan yang lebih menarik daripada “ya, namanya juga hujan”. Ada bahan di permukaan, tumbukan tetes, dan pelepasan ke udara. Kalau kemudian langit berkedip disusul guruh, lanjutkan ke kenapa kilat datang lebih dulu ke mata kita. Yang ini urusannya sudah pindah dari hidung ke telinga.
Sumber dan catatan
Rujukan: penjelasan McGill University, laporan tim MIT, dan publikasi Joung–Buie 2015 yang ditautkan. Analogi, skenario siswa, serta diagram merupakan materi penjelas buatan PalingBelajar. Thumbnail bergaya foto dibuat dengan image_gen ChatGPT, bukan dokumentasi eksperimen. Teks dibantu AI dan diperiksa terhadap rujukan. Diperiksa 17 Oktober 2026.






