Sains di Sekitar Kita · 2/3
Langit berkedip. Kamu refleks menoleh. Beberapa detik kemudian, baru terdengar guruh. Rasanya seperti menonton video yang gambarnya sudah jalan, tapi audionya masih mencari sinyal.
Penyebabnya sederhana: cahaya bergerak jauh lebih cepat daripada bunyi. Cahaya kilat sampai ke mata lebih dulu; gelombang bunyinya membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai telinga. Kejadiannya saling berkaitan, tetapi waktu tiba informasinya berbeda.
Guruh itu sebenarnya suara apa?
Bukan awan yang sedang bergeser seperti lemari. Kilatan petir memanaskan udara di sekitar salurannya dengan sangat cepat. Udara mengembang mendadak dan menghasilkan gelombang kejut yang kita dengar sebagai guruh atau guntur.
NOAA menjelaskan proses bunyi guruh sebagai akibat pemuaian cepat udara yang dipanaskan oleh petir. Gelombang muncul sepanjang jalur petir, sehingga sumber bunyinya bukan selalu satu titik kecil. Bentuk jalur dan perjalanan gelombangnya ikut membuat bunyi bisa terdengar seperti letupan, gemuruh panjang, atau gabungan keduanya.
Ini menjelaskan kenapa suara guruh tidak selalu berupa satu “dor” yang rapi. Jalur petir bukan tombol bel rumah: ditekan sekali, bunyinya seragam, lalu selesai. Bagian-bagian jalurnya dapat berada pada jarak berbeda dari pendengar.
Mengapa jedanya bisa beberapa detik?
Untuk jarak beberapa kilometer, waktu tempuh cahaya sangat kecil dibandingkan waktu tempuh bunyi di udara. Karena itu, dalam perkiraan sederhana kita menganggap kilat terlihat hampir seketika. Jeda menuju guruh lalu dipakai sebagai petunjuk kasar waktu perjalanan bunyi.
Aturan pendekatan NOAA untuk kilometer adalah membagi jeda detik dengan tiga. Misalnya, 9 detik kira-kira berarti 3 km. Kata kira-kira jangan dihapus. Kecepatan bunyi dipengaruhi kondisi udara, sementara memasangkan satu kilat dengan guruh yang tepat juga belum tentu mudah.
Bayangkan ada beberapa kilat berdekatan waktunya. Kalau kamu memasangkan kilat pertama dengan guruh dari kilat lain, pembagiannya bisa tetap benar tetapi jaraknya keliru. Kalkulator yang patuh tidak bisa menyelamatkan masukan yang salah. Ini masalah yang cukup sering terjadi di luar pelajaran fisika juga.
Lihat contoh jedanya dalam gambar
Infografis berikut memakai angka latihan, bukan mikrofon, lokasi pengguna, atau deteksi petir. Kamu tidak perlu keluar dan menunggu badai untuk mencobanya.
| Jeda contoh | Perkiraan jarak |
|---|---|
| 3 detik | 1 km |
| 6 detik | 2 km |
| 9 detik | 3 km |
| 15 detik | 5 km |
Tabel itu berguna untuk memahami hubungan jarak dan waktu. Ia tidak memberi batas yang membuat aktivitas di luar ruangan menjadi aman. Menghitung “masih lima kilometer” sambil berdiri di lapangan justru melewatkan informasi terpenting: ada aktivitas petir di sekitar.
Kalau bunyinya jauh, boleh lanjut main di luar?
Jika terdengar guruh, NOAA menyarankan segera berlindung di bangunan yang memadai atau kendaraan beratap logam yang tertutup, dengan jendela dinaikkan. Tunggu setidaknya 30 menit sejak guruh terakhir sebelum kembali beraktivitas di luar. Pohon tunggal atau tempat berteduh terbuka bukan pengganti tempat perlindungan tersebut.
Jadi, gunakan bagian hitung-hitungan sebagai pelajaran fisika. Untuk keputusan saat badai, ikuti petunjuk keselamatan dan informasi resmi setempat. Fisika memang membantu kita memahami kejadian; ia tidak meminta kita menjadi alat percobaannya.
Latihan kecil: mana yang lebih jauh?
Dua contoh fiktif: pada kejadian A, jedanya 6 detik; pada kejadian B, 12 detik. Dengan pendekatan yang sama, kejadian mana yang diperkirakan lebih jauh? Apakah hasil itu bisa dipakai untuk menjamin posisi kita aman?
Lihat jawabannya
B diperkirakan lebih jauh: sekitar 4 km, dibanding A sekitar 2 km. Namun, perkiraan tersebut tidak menjamin keselamatan dan tidak memprediksi lokasi sambaran berikutnya. Hubungan waktu–jarak dan penilaian risiko adalah dua pertanyaan yang berbeda.
Kalau selama ini jeda kilat dan guruh terasa seperti langit sedang memberi efek dramatis, sekarang kamu tahu bahwa keduanya sekadar menempuh perjalanan dengan kecepatan berbeda. Bunyi tidak terlambat karena lupa masuk antrean; jalannya memang jauh lebih lambat.
Untuk membaca kondisi sebelum merencanakan kegiatan, buka panduan prakiraan BMKG. Kalau ingin melanjutkan urusan cahaya dengan suasana lebih tenang, baca mengapa senja berwarna merah dan jingga.
Sumber dan catatan
Proses guruh serta pendekatan waktu–jarak merujuk NOAA JetStream; petunjuk perlindungan merujuk halaman keselamatan NOAA yang ditautkan. Skenario dan infografis memakai angka buatan. Thumbnail bergaya foto dibuat dengan image_gen ChatGPT, bukan foto badai yang diamati penulis. Teks dibantu AI serta diperiksa terhadap rujukan. Diperiksa 17 Oktober 2026.

