Di artikel ini
- Pengenalan Singkat tentang Virus Rabies
- Sulit Terdeteksi pada Tahap Awal
- Virus Menyerang Sistem Saraf Termasuk Otak
- Sulitnya Obat Menembus Blood Brain Barrier
- Vaksin dan Obat Terbatas Kuantitasnya
- Data Kasus Rabies Masih Sangat Kurang
- Minimnya Pendanaan Riset dan Pengembangan Obat
- Kesimpulan: Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati
- FAQ
Rabies adalah penyakit virus yang menyerang sistem saraf pusat. Penyakit ini hampir selalu berakhir fatal setelah timbul gejala. Lalu, mengapa penyakit ini sulit ditemukan obatnya? Yuk, simak penjelasannya berikut ini.
Pengenalan Singkat tentang Virus Rabies
Rabies disebabkan oleh virus dari genus Lyssavirus dan familya Rhabdoviridae. Virus ini menyerang sistem saraf, terutama otak.
“Rabies adalah salah satu penyakit zoonosis viral paling mematikan yang dikenal manusia. Setelah timbul gejala klinis, penyakit ini hampir selalu berakhir dengan kematian.” (Kemenkes RI, 2020)
Virus rabies menular dari hewan ke manusia, umumnya melalui gigitan atau cakaran. Namun bisa juga melalui luka terbuka ataupun selaput lendir yang kontak dengan air liur hewan yang terinfeksi.
Di Indonesia sendiri, hewan penular rabies dominan adalah anjing dan kucing.
Sulit Terdeteksi pada Tahap Awal
Salah satu tantangan terbesar mengobati rabies karena penyakit ini sulit dideteksi pada tahap awal.
Pada manusia, masa inkubasi rabies bisa sangat variatif, mulai dari 5 hari hingga lebih dari setahun, meski rata-rata sekitar 3-8 minggu.
Tahap awal biasanya hanya menunjukkan gejala seperti demam tinggi, sakit kepala, dan rasa lesu yang tidak khas. Kadang juga tidak menimbulkan gejala apa pun.
Baru setelah virus mulai menginvasi saraf dan otak, muncul gejala seperti gangguan pada luka gigitan, phobia air/udara, kejang otot, paralisis, dan radang otak (ensephalitis) yang akhirnya menyebabkan koma dan kematian.
“Permasalahan terbesar terapi rabies setelah timbul gejala adalah diagnosisnya yang terlambat akibat gejala awal yang tidak khas dan masa inkubasinya yang panjang.” (Wulansari & Nata, 2018).
Jadi sangat mudah untuk melewatkan diagnosis rabies pada tahap awal, yang berarti lebih sulit mencegah virus menyerang sistem saraf pusat.
Virus Menyerang Sistem Saraf Termasuk Otak
Selanjutnya, tantangan obat rabies yang mematikan karena virusnya langsung ‘bertamu’ ke rumah sang tuan.
Virus rabies secara selektif menyerang sel saraf/neuron di sistem saraf pusat sebelum menyebar ke organ lain. Virus akan bermigrasi dari luka gigitan menuju otak melewati saraf tepi dan sumsum tulang belakang.
Laju perjalanan virus rabies di saraf peripheral sangat variatif. Pada anak-anak bisa sangat cepat, hanya butuh 1 minggu bagi virus merambah dari luka gigitan kaki menuju otak.
Di otak, virus rabies menyerang hippocampus, thalamus, brain stem, dan korteks serebri. Radang otak akibat virus inilah yang menyebabkan koma dan kematian.
“Once clinical signs occur, rabies is virtually 100% fatal” (WHO Expert Consultation on Rabies, 2013)
Menyerang ‘markas besar’ sistem saraf inilah yang membuat rabies sangat mematikan. Salah satu kendalanya, sulit bagi obat untuk menembus blood brain barrier (BBB) yang melindungi otak.
Sulitnya Obat Menembus Blood Brain Barrier
Blood brain barrier (BBB) melindungi otak dan sistem saraf pusat dari bahan asing berbahaya, termasuk obat-obatan.
Hanya sedikit obat yang bisa menembus BBB dan otak sulit diakses secara fisik karena terlindung di tengkorak. Inilah tantangannya mengobati infeksi otak seperti rabies.
Hal ini dipersulit dengan virus rabies yang mampu ‘bersembunyi’ di dalam neuron, dilindungi membran sel inangnya sendiri. Virus bisa hingga 10 hari di neuron tanpa membuat efek yang terlihat, sebelum tiba-tiba aktif berkembangbiak.
Dengan ‘persembunyian’ unik ini, obat anti virus seperti yang digunakan pada HIV juga tidak efektif membunuh virus rabies. Bisa dibilang virus rabies pintar ‘bersembunyi dan berkembang’ di dalam sistem saraf.
Vaksin dan Obat Terbatas Kuantitasnya
Untuk mencegah rabies, ada vaksin rabies dan juga obat antibody/imunoglobulin seperti HRIG (Human Rabies Immunoglobulin).
Sayangnya kedua terapi ini juga terbatas kuantitas dan produksinya mahal. HRIG misalnya harganya sekitar Rp 7-15 juta per 5 ml, dengan dosis pemberian 20 IU/kg BB.
Menurut pedoman diagnosa dan terapi Kementerian Kesehatan RI (2020), HRIG idealnya diberikan bersama vaksin rabies untuk pencegahan pascagigitan (post exposure prophylaxis).
Namun karena HRIG mahal dan terbatas, biasanya hanya vaksin rabies saja yang diberikan tanpa HRIG pada pasien gigitan hewan penular rabies. Ini berisiko mengurangi efektivitas pencegahan dan kadang masih berakhir fatal.
Data Kasus Rabies Masih Sangat Kurang
Tantangan lain kurangnya data dan penelitian soal rabies di dunia. Diperkirakan setiap tahunnya ada sekitar 59 ribu kematian manusia akibat rabies, namun angka ini sangat underreported.
Banyak kasus rabies terutama di negara berkembang yang tidak terdata dan dilaporkan. Ini mempersulit surveillance epidemiologi dan evaluasi program eliminasi rabies. Minimnya data dan sampel kasus ini juga membatasi riset tentang rabies.
Minimnya Pendanaan Riset dan Pengembangan Obat
Salah satu faktor besar lain minimnya terapi definitif untuk rabies adalah kurangnya minat dan pendanaan untuk riset pengembangan vaksin maupun obatnya.
Hal ini karena mayoritas kasus rabies terjadi di negara miskin atau berkembang, sementara penelitian dan produksi obat/vaksin didominasi pihak swasta di negara maju. Para investor lebih tertarik mendanai penelitian penyakit yang banyak ditemukan di negara kaya seperti kanker atau diabetes.
“Minimnya akses vaksin dan obat rabies di negara miskin dan berkembang menggambarkan kegagalan pasar obat global.” (WHO Expert Consultation on Rabies, 2018).
Sehingga walau rabies masih endemis di banyak negara, pengembangan vaksin dan obat baru untuk rabies masih sangat ketinggalan.
Berakhir Fatal Setelah Gejala Muncul
Meski belum ada obatnya, rabies sebenarnya masih bisa dicegah jika ditangani dengan benar.
Sayangnya di banyak kasus, diagnosis dan intervensi dilakukan terlambat setelah gejala neurologis timbul. Padahal pada tahap ini virus sudah menginvasi otak, sehingga berakhir fatal meski upaya pengobatan dilakukan.
Menurut data WHO, rata-rata durasi masa inkubasi rabies adalah 1-3 bulan. Namun begitu gejala klinis muncul, maka 95% kasus berakhir kematian dalam waktu 2-10 hari.
Artinya tingkat fatalitas rabies sangat tinggi dan kematian terjadi sangat cepat setelah onset gejala. Ini membuat upaya pengobatan apa pun jadi sangat sulit.
“Once the rabies virus reaches the brain and symptoms of the disease develop, rabies is virtually 100% fatal.” (CDC USA)
Maka sangat penting melakukan pencegahan sesegera mungkin setelah terpapar (misal gigitan hewan) sebelum gejala muncul. Sayangnya kesadaran dan akses vaksin masih sangat terbatas terutama di negara berkembang yang paling rentan.
Kesimpulan: Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati
Jadi beberapa tantangan utama mengapa rabies sangat sulit diobati antara lain:
- Sulit terdeteksi dini dan diagnosis terlambat
- Virus menyerang langsung sistem saraf pusat yang sulit diakses obat
- Keterbatasan vaksin dan obat antibody yang efektif
- Minimnya data kasus dan pendanaan penelitian
- Tingginya angka fatalitas setelah gejala klinis timbul
Karena itu, pencegahan rabies sejak dini jauh lebih efektif ketimbang upaya pengobatan. Vaksin dan obat antibody yang tersedia juga lebih baik manfaatnya saat diberikan pada individu sehat sebelum virus menginvasi sistem saraf.
Sayangnya kesadaran dan akses ke vaksin rabies di banyak negara masih sangat terbatas. Diperlukan edukasi publik dan dukungan pemerintah dalam program eliminasi rabies. Kampanye vaksinasi hewan peliharaan juga penting untuk memutus rantai penularan.
Dengan upaya pencegahan yang tepat, penyakit mematikan ini sebetulnya bisa dicegah meski obat definitifnya masih belum ditemukan hingga saat ini.
FAQ
Pertanyaan: Berapa lama seseorang bisa bertahan hidup setelah gejala rabies timbul?
Jawaban: Rata-rata orang hanya mampu bertahan hidup selama 2-10 hari setelah onset gejala klinis rabies. Rekor terlama adalah 6 bulan dengan bantuan perawatan intensif. Tapi kebanyakan kasus berakhir dengan kematian dalam waktu kurang dari 2 minggu.
Pertanyaan: Apakah orang yang sudah divaksin rabies bisa terhindar dari rabies?
Jawaban: Vaksin rabies sangat efektif mencegah rabies jika diberikan tepat waktu sebelum virus menginfeksi sistem saraf. Namun tidak ada vaksin manapun yang bisa menyembuhkan rabies 100% begitu gejala timbul. Maka sangat penting edukasi dan akses vaksinasi sebagai pencegahan.






